Kuningan,- BIN808.COM || Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di TKN Bugenpil 1 Cihideunggirang dan SDN 1 Cihideunggirang, Kabupaten Kuningan, menuai sorotan serius. Selama tiga hari distribusi, paket makanan yang diterima siswa dinilai tidak mencerminkan standar gizi seimbang, sehingga memicu kekecewaan luas dari orang tua murid, komite sekolah, hingga pihak sekolah.29/12/2025
Berdasarkan informasi yang dihimpun, MBG untuk wilayah Kecamatan Cidahu diproduksi dari dapur MBG yang berlokasi di Desa Cihideunghilir (Bapak Ilan) . Kondisi menu yang diterima siswa memunculkan dugaan dari orang tua murid terkait kesiapan dapur produksi, perencanaan menu, serta pengawasan distribusi.
Sejumlah orang tua murid menyampaikan dugaan bahwa menu yang dibagikan tidak sebanding dengan anggaran yang semestinya diterima per anak. Mereka menilai porsi makanan terlalu kecil, minim protein hewani, serta tidak disertai susu selama beberapa hari distribusi.
“Kalau memang susu kosong, seharusnya ada pengganti dengan nilai gizi yang setara. Ini yang kami pertanyakan,” ungkap salah satu orang tua murid yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Menurut narasumber yang enggan dipublikasikan membenarkan adanya keluhan dari orang tua murid dan menyatakan pihak sekolah telah menyampaikan keberatan tersebut kepada penyelenggara MBG/SPPG.
“Silakan konfirmasi ke orang tua atau ke pihak SPPG. Tadi saya sudah menyampaikan komplain ke SPPG,” ujarnya.
Sebagai respons atas keluhan tersebut, pihak penyelenggara MBG memberikan klarifikasi melalui komunikasi tertulis via aplikasi WhatsApp kepada pihak sekolah dan orang tua murid. Dalam klarifikasinya, pihak MBG mengakui tidak menyertakan susu dengan alasan kelangkaan stok dari pemasok.
“Kami menyampaikan permohonan maaf karena pada pelaksanaan distribusi tidak dapat disertakan susu, sehubungan dengan adanya kelangkaan stok susu dari pihak pemasok. Kekurangan susu tersebut akan kami ganti pada distribusi berikutnya,” tulis pihak MBG.
Namun, penjelasan tersebut dinilai belum menjawab persoalan mendasar. Orang tua murid mempertanyakan mengapa distribusi tetap dilakukan tanpa penyesuaian menu pengganti yang setara secara gizi, serta apakah kondisi dapur MBG di Desa Cihideunghilir telah memenuhi standar operasional yang ditetapkan.
Selain itu, pihak MBG juga menyampaikan rincian anggaran porsi kecil dan besar. Meski demikian, hingga kini belum ada pemaparan terbuka terkait standar porsi, komposisi gizi, serta mekanisme pengawasan dapur produksi kepada pihak sekolah dan orang tua.
Penyelenggara MBG menyatakan akan menjadikan keluhan tersebut sebagai bahan evaluasi dan berkomitmen melakukan perbaikan ke depan.
“Kami akan memperbaiki ke depannya dan menerima seluruh saran serta kritik,” tulis pihak MBG dalam pernyataan lanjutan.
Hingga berita ini diterbitkan, orang tua murid berharap adanya audit menu dan dapur MBG wilayah Cidahu, termasuk keterbukaan mengenai alur anggaran, standar gizi, dan pengawasan distribusi, agar tujuan utama program pemenuhan gizi anak benar-benar terpenuhi.
Redaksi menegaskan bahwa laporan ini disusun berdasarkan temuan lapangan dan klarifikasi tertulis dari pihak terkait. Hak jawab dan konfirmasi lanjutan tetap dibuka, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, demi menjamin akuntabilitas serta perlindungan hak anak sebagai penerima manfaat program.(Red)

