Madina, Sumut, –BIN808.COM || Turunnya Tim Tipidter Krimsus Mabes Polri untuk memberantas praktik Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Desa Tombang Kaluang, Kecamatan Batang Natal, mendapat sorotan keras dari kalangan mahasiswa. Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Mandailing Natal menilai langkah tersebut sebagai bukti nyata gagalnya Kapolres Madina dalam menegakkan hukum di wilayahnya.16/11/2025
Ketua DPC GMNI Madina, Bung Rajab, dalam pernyataan sikap resminya menyebut operasi Mabes Polri ini sebagai “smash keras” terhadap Polres Madina. Ia menduga ada dua kemungkinan di balik mandeknya penindakan PETI selama ini:
- Ketidakmampuan struktural Kapolres, atau
- Adanya kompromi dengan mafia tambang.
“Fakta bahwa Mabes Polri harus turun tangan untuk perkara yang seharusnya menjadi kewenangan Polres Madina menunjukkan ketidakmampuan sekaligus kelambanan. Lebih memalukan lagi, dua excavator yang diamankan ditemukan dalam kondisi tidak beroperasi. Ini bukti bahwa PETI sebenarnya mudah ditindak, jika Polres memang punya kemauan,” tegas Bung Rajab.
Desak Kapolres Tepati Janji: “Potong Kuping Jika Tidak Mampu”
GMNI Madina mendesak Kapolres Madina untuk mempertanggungjawabkan kegagalannya.
“Jika Bapak Kapolres merasa tidak mampu membersihkan ‘kandang sendiri’, lebih baik mengundurkan diri sekaligus menepati janjinya: potong kuping. Jangan sampai karena ketidakmampuan satu pimpinan, seluruh institusi Polri tercoreng di mata masyarakat Madina,” ujar Rajab.
Apresiasi untuk Mabes Polri
GMNI juga memberikan apresiasi kepada Tim Tipidter Krimsus Mabes Polri yang dipimpin AKBP Fajar. Dengan hanya enam personel, tim tersebut berhasil mengamankan alat berat dari lokasi PETI.
“Kami percaya kepada Bapak Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., beserta Tim Mabes Polri, untuk mengusut tuntas jaringan mafia yang bermain di balik aktivitas ilegal ini. Kami juga meminta dilakukan pemeriksaan internal atas kinerja anggota Polres Madina maupun Kapolresnya,” tambahnya.(Red/S.N)

