Data BI: Keyakinan Konsumen Masih Optimistis, Tapi Ekspektasi Ekonomi Mulai Melemah

Posted by : bincom1 May 13, 2026

Jakarta, – BIN808.COM || Survei Konsumen Bank Indonesia pada April 2026 menunjukkan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih berada di zona optimistis. Namun, di balik angka tersebut, muncul sinyal kehati-hatian masyarakat terhadap prospek ekonomi ke depan.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen, menilai kondisi tersebut menunjukkan optimisme masyarakat masih bertahan, tetapi mulai dibayangi kekhawatiran terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas usaha dalam beberapa bulan mendatang.

Hal itu disampaikan Samuel menanggapi hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 berada di level 123,0.

“Angka 123,0 menunjukkan masyarakat masih percaya terhadap kondisi ekonomi nasional karena indeks masih berada di atas level 100. Namun ada sinyal perlambatan yang tidak boleh diabaikan, terutama pada ekspektasi penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha,” ujar Samuel, Selasa (12/5/2026).

Samuel menjelaskan kenaikan tipis IKK dari 122,9 pada Maret menjadi 123,0 pada April belum mencerminkan pemulihan ekonomi yang kuat. Pasalnya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru turun menjadi 129,6 dari sebelumnya 130,4.

“Kondisi ini menggambarkan masyarakat masih berhati-hati. Banyak yang mulai mempertanyakan apakah kondisi ekonomi bisa tetap stabil dalam enam bulan ke depan,” katanya.

Ia juga menyoroti penurunan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) yang dinilai menjadi indikator penting terhadap sentimen dunia usaha. Dalam empat bulan pertama 2026, indeks tersebut turun dari 135,3 menjadi 124,1.

Baca Juga :  Ajukan Empat Tuntutan, Aksi Ribuan Tenaga Honorer di DPR Berjalan Tertib dan Lancar

Menurut Samuel, penurunan itu dapat dipengaruhi tekanan ekonomi global, fluktuasi harga energi dan pangan impor, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga melemahnya daya beli masyarakat.

“Pelaku usaha dan masyarakat sama-sama membaca adanya ketidakpastian global yang berdampak pada ekonomi domestik. Faktor geopolitik, harga kebutuhan pokok, dan pasar tenaga kerja turut memengaruhi psikologi ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Samuel meminta pemerintah fokus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta memperkuat penciptaan lapangan kerja. Ia mengingatkan, jika tren penurunan ekspektasi terus berlanjut, konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional bisa terdampak.

“Kalau masyarakat mulai menahan belanja karena khawatir kondisi ekonomi memburuk, maka pertumbuhan nasional juga berpotensi melambat,” tegasnya.

Meski demikian, ia menilai kondisi saat ini belum berada pada tahap mengkhawatirkan karena seluruh indikator masih berada di zona optimistis. Namun pemerintah diminta tidak hanya terpaku pada angka pertumbuhan, melainkan juga membaca kondisi psikologis masyarakat di tingkat akar rumput yang mulai menunjukkan kehati-hatian.

“Optimisme tetap ada, tetapi pemerintah harus tetap waspada membaca kondisi riil masyarakat,” pungkasnya.

(Red) 

Baca Juga :  Kodim 0808/Blitar Ikuti Pembinaan Rohani Islam Virtual Terpusat : Perkuat Mental Prajurit, Wujudkan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah
RELATED POSTS
FOLLOW US

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *