Di Balik Parcel Lebaran: Pengadilan Negeri Makassar Bongkar Praktik Gratifikasi, Serahkan ke UPG

Posted by : bincom1 April 6, 2026 Tags : Unit Pengendali Gratifikasi (UPG) , Ma , Mahkamah agung

Jakarta,- BIN808.COM || Langkah tegas ditunjukkan Pengadilan Negeri Makassar dengan menyerahkan sejumlah barang gratifikasi ke Unit Pengendali Gratifikasi (UPG), membuka secara terang praktik penerimaan yang kerap dianggap “lumrah” di momentum tertentu.6/4/2026

Dalam kegiatan resmi yang dipimpin Wakil Ketua PN Makassar, Mashuri Effendie, para aparatur secara terbuka mengungkap kronologi penerimaan gratifikasi—mulai dari waktu, jenis barang, hingga identitas pemberi.

Mayoritas gratifikasi berupa parcel, yang selama ini sering dianggap sebagai bagian dari budaya, namun berpotensi menjadi pintu masuk konflik kepentingan dalam sistem peradilan.

Langkah ini menjadi bagian dari implementasi aturan Komisi Pemberantasan Korupsi, serta penguatan kebijakan Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam mendorong peradilan bersih.

“Ini bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk komitmen menjaga integritas,” tegas Mashuri.

Penyerahan ini sekaligus menjadi pesan keras: praktik gratifikasi, sekecil apa pun, tidak boleh lagi ditoleransi di lingkungan peradilan.

“Gratifikasi ‘Parcel’ di Meja Peradilan: Komitmen atau Sekadar Ritual Tahunan?”

Fenomena penyerahan gratifikasi oleh Pengadilan Negeri Makassar patut diapresiasi, namun sekaligus membuka pertanyaan besar:

  • Seberapa dalam praktik ini sebenarnya mengakar?
Baca Juga :  Ketum FWJ Indonesia: Negara Harus Hadir Dalam Penanganan Air Bersih di 12 Desa Kabupaten Pemalang

Setiap tahun, momentum hari raya kerap dibarengi dengan “tradisi” pemberian parcel. Di satu sisi dianggap wajar secara sosial, namun di sisi lain berpotensi melanggar prinsip independensi peradilan.

Mengacu pada regulasi Komisi Pemberantasan Korupsi melalui Peraturan Nomor 2 Tahun 2019, setiap gratifikasi wajib dilaporkan. Namun fakta bahwa barang-barang tersebut tetap diterima terlebih dahulu menunjukkan adanya celah budaya yang belum sepenuhnya berubah.

Pernyataan Mashuri Effendie soal komitmen moral menjadi penting, tetapi publik tentu menuntut lebih dari sekadar komitmen—yakni pencegahan total, bukan hanya pelaporan.

Di sinilah tantangan terbesar Mahkamah Agung Republik Indonesia:

  • Apakah reformasi birokrasi sudah menyentuh akar persoalan, atau masih berhenti pada level administratif?
Baca Juga :  Satgas Yonif 521/DY Berikan Sosialisasi dan Layanan Kesehatan Bagi Warga Distrik Bolakme

Realitasnya:

  • Gratifikasi masih terjadi (meski dilaporkan)
  • Budaya pemberian belum sepenuhnya hilang
  • Transparansi sudah berjalan, tapi pencegahan belum maksimal

Jika ingin benar-benar bersih dari KKN, maka langkah ke depan tidak cukup hanya menyerahkan gratifikasi ke UPG, tetapi harus sampai pada:

  • 👉 penolakan langsung di titik awal
  • 👉 Edukasi publik agar tidak memberi
  • 👉 Sanksi tegas bagi pelanggaran

Karena pada akhirnya, integritas peradilan tidak diuji saat laporan dibuat—melainkan saat godaan pertama datang.(Red) 

RELATED POSTS
FOLLOW US

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *