SobatPena, – BIN808.COM ||
“Yang melihat bukan mata. Yang mendengar bukan telinga. Yang berpikir bukan otak. Semuanya hanyalah alat. Lalu, siapakah yang menggunakan semua itu?”
Setelah perjalanan mengenal jiwa dan memahami bahwa manusia adalah miniatur alam semesta, kini Ngaji Diri memasuki ruang yang lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih dekat dengan hakikat kehidupan.
Ruang itu adalah kesadaran.
Kesadaran bukan sekadar kemampuan mengetahui sesuatu.
Kesadaran adalah cahaya yang membuat segala sesuatu dapat diketahui.
Kesadaran adalah kebeningan.
- Bukan benda,
- Bukan pikiran,
- Bukan pula perasaan.
Ia tidak memiliki bentuk, bening dan tidak dapat disentuh.
Namun melalui kebeningan itulah segala sesuatu menjadi tampak. Pikiran datang dan pergi.
Perasaan muncul lalu menghilang, Tubuh lahir, tumbuh, dan menua.
Tetapi kebeningan kesadaran tetap hadir sebagai saksi yang tidak pernah berubah.
Dalam kebeningan itulah manusia mulai mengenal jati dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya bukanlah tubuh yang akan menua, bukan pula pikiran yang terus berubah, ataupun perasaan yang silih berganti. Semua itu hanyalah pengalaman yang melintas dalam ruang kesadaran. Sedangkan kesadaran sendiri tetap bening, tetap hening, dan tetap menjadi saksi atas seluruh perjalanan kehidupan.
Semakin bening kesadaran, semakin jernih manusia memandang dirinya, sesamanya, alam semesta, dan kehidupan. Dari kebeningan itulah lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan tumbuh kasih sayang. Dan dari kasih sayang, manusia menemukan jalan pulang menuju Sang Jati Diri.
Namun tanpanya, seluruh kehidupan hanya akan menjadi rangkaian kebiasaan yang berjalan tanpa makna.
Banyak manusia hidup.
Namun sedikit yang benar-benar sadar bahwa dirinya sedang hidup.
Banyak manusia melihat dunia.
Namun belum pernah benar-benar melihat dirinya sendiri.
Maka kajian ini bukan mengajak mencari Tuhan di langit, bukan pula mencari kebenaran di luar diri.
Kajian ini mengajak pulang.
Pulang menuju ruang yang selama ini selalu ada, tetapi jarang disadari.
Ruang itu adalah ruang cahaya kesadaran.
Kesadaran Adalah Saksi
- Segala sesuatu berubah.
- Tubuh berubah.
- Usia berubah.
- Wajah berubah.
- Keadaan berubah.
- Hubungan berubah.
- Pikiran berubah.
- Perasaan berubah.
Namun ada satu yang tidak berubah.
Selalu ada yang mengetahui semua perubahan itu.
Ketika engkau berkata,
“Aku sedang sedih.”
Siapakah yang mengetahui kesedihan itu?
Ketika engkau berkata,
“Pikiranku sedang kacau.”
Siapakah yang mengetahui kekacauan itu?
Yang mengetahui itulah saksi.
Dan saksi itu adalah kesadaran.
- Kesadaran tidak marah.
- Yang marah adalah ego.
- Kesadaran tidak takut.
- Yang takut adalah pikiran.
- Kesadaran tidak terluka.
- Yang terluka adalah identitas yang kita bangun.
Kesadaran hanya menyaksikan.
- Diam.
- Jernih.
- Selalu hadir.
- Ruang Cahaya Kesadaran
Sebagaimana bumi memiliki matahari sebagai sumber cahaya dan kehidupan, manusia pun memiliki ruang cahaya kesadaran.
- Di sanalah lahir kebijaksanaan.
- Di sanalah hati menemukan arah.
- Di sanalah jiwa menemukan kedamaian.
Ruang cahaya kesadaran tidak pernah padam.
- Yang menutupinya hanyalah debu kehidupan.
- Debu amarah.
- Debu iri.
- Debu dendam.
- Debu kesombongan.
- Debu ketakutan.
- Debu keinginan yang tak pernah selesai.
Semakin banyak debu menempel, semakin redup cahaya itu tampak.
Padahal yang redup bukan cahayanya.
Melainkan pandangan kita.
Karena cahaya kesadaran selalu menyala.
Ia hanya menunggu manusia kembali membersihkan dirinya.
Ego: Kabut yang Menutupi Cahaya
Ego selalu berkata,
“Aku yang paling benar.”
Kesadaran berkata,
“Aku masih harus belajar.”
Ego ingin dipuji.
Kesadaran ingin bertumbuh.
Ego ingin menang.
Kesadaran ingin memahami.
Ego membangun jarak.
Kesadaran membangun kasih sayang.
Selama manusia hidup di bawah bayang-bayang ego, cahaya kesadarannya tidak pernah benar-benar bersinar.
Namun ketika ego mulai diletakkan, manusia mulai melihat kehidupan apa adanya.
Hidup dalam Keadaan Terjaga
Kesadaran bukan berarti mengasingkan diri.
Kesadaran justru membuat manusia hadir sepenuhnya dalam kehidupan.
- Ia makan dengan sadar.
- Berbicara dengan sadar.
- Mendengar dengan sadar.
- Bekerja dengan sadar.
- Mencintai dengan sadar.
Bahkan ketika marah pun ia sadar bahwa dirinya sedang marah.
Kesadaran tidak menghapus emosi.
Kesadaran menerangi emosi.
Sehingga manusia tidak lagi menjadi budak dari pikirannya sendiri.
Kesadaran dan Alam Semesta
Ketika kesadaran bertumbuh, manusia mulai melihat bahwa dirinya tidak pernah terpisah dari alam.
Udara yang dihirup adalah napas kehidupan.
Air yang diminum adalah aliran kehidupan.
Tanah yang dipijak adalah asal jasad.
Cahaya matahari adalah pengingat bahwa setiap kehidupan membutuhkan terang.
Lalu manusia bertanya,
Jika aku menjaga tubuhku setiap hari…
Mengapa aku tidak menjaga bumi yang menjadi tubuh besar tempat aku hidup?
Kesadaran melahirkan kepedulian.
Dan kepedulian melahirkan kasih sayang kepada seluruh kehidupan.
Pertanyaan untuk Bercermin
Apakah selama ini aku benar-benar hidup, atau hanya menjalani kebiasaan?
Apakah aku mengenal diriku, atau hanya mengenal namaku?
Siapakah aku ketika seluruh jabatan dan identitas dilepaskan?
Apakah aku mengendalikan pikiranku, atau pikirankulah yang mengendalikan aku?
Apakah ruang cahaya kesadaranku semakin terang, atau justru semakin tertutup oleh ego?
Sudahkah aku hadir sepenuhnya ketika berbicara dengan orang lain?
Sudahkah aku benar-benar mendengar sebelum memberi jawaban?
Apakah aku masih mudah tersinggung karena egoku lebih besar daripada kesadaranku?
Apakah keberadaanku membawa ketenangan bagi orang lain?
Jika hari ini adalah hari terakhirku, apakah aku telah hidup dengan penuh kesadaran?
Penutup
Kesadaran bukanlah sesuatu yang harus dicari ke tempat yang jauh.
Ia telah ada di dalam diri.
Yang diperlukan hanyalah keberanian untuk berhenti sejenak, diam, mendengar, dan mengenal diri sendiri.
Karena pada akhirnya, perjalanan Ngaji Diri bukanlah perjalanan menuju kehebatan diri, melainkan perjalanan pulang menuju kejernihan dan kebeningan kesadaran Sang Jati Diri.
Di sanalah manusia belajar melihat dirinya, sesamanya, alam semesta, dan kehidupan sebagai tanda-tanda yang mengarahkan kepada kebesaran Sang Jati Diri.
Semakin dalam seseorang mengenal kesadarannya, semakin kecil keinginannya untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.
Semakin jernih ruang batinnya, semakin besar kasih sayangnya kepada seluruh makhluk.
Dan ketika cahaya kesadaran benar-benar menyala, manusia tidak lagi sibuk bertanya, “Siapakah aku?”
Ia mulai hidup sebagai jawaban.
Karena hakikat Ngaji Diri bukan sekadar memahami kehidupan.
Melainkan menjadi manusia yang sadar, hadir, bermanfaat, dan membawa cahaya bagi sesama.
Sebab kesadaran adalah awal dari kebijaksanaan, dan kebijaksanaan adalah jalan pulang menuju Sang Jati Diri.

