Jakarta ,– BIN808.COM || Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat dan kewaspadaan tinggi merupakan kunci utama dalam menjalankan misi perdamaian dunia, khususnya di wilayah konflik seperti Lebanon.
Sebagai veteran pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Menteri Iftitah menyoroti bahwa tantangan terbesar di lapangan bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga ketidakpastian situasi yang dapat berubah sewaktu-waktu.
“Kami menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI. Ancaman utama di wilayah konflik adalah ketidakpastian. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan mutlak diperlukan, termasuk kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat di lapangan,” ujarnya dalam wawancara terkait dinamika konflik di Lebanon, Minggu (5/4).
Menteri Iftitah mengungkapkan pengalamannya saat bertugas pada 2006–2007, pasca Lebanon War 2006, di mana kondisi keamanan sangat fluktuatif.
Menurutnya, tugas pasukan perdamaian tidak sesederhana menjaga stabilitas, tetapi menghadapi realitas kompleks di lapangan.
“Tugas pasukan perdamaian memang menjaga perdamaian, tetapi implementasinya jauh lebih kompleks. Situasi bisa tampak normal di permukaan, namun berpotensi eskalatif setiap saat,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa mandat pasukan perdamaian mengacu pada Piagam PBB, khususnya Chapter VI dan Chapter VII. Dalam konteks UNIFIL, mandat tersebut bahkan sering disebut sebagai “Chapter 6,5”, merujuk pada kompleksitas yang berada di antara operasi damai dan potensi konflik terbuka.
Menteri Iftitah juga menyoroti berbagai ancaman nyata yang dihadapi prajurit di lapangan, mulai dari ranjau darat hingga tekanan psikologis akibat situasi konflik yang tidak menentu.
“Situasi di UNIFIL sangat rentan. Fluktuatif, laten, dan penuh potensi konflik besar. Ini menuntut kewaspadaan tanpa kompromi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa operasi perdamaian memiliki pendekatan berbeda dibanding operasi tempur. Kehadiran pasukan bukan untuk berperang, melainkan menjaga stabilitas dan melindungi diri sesuai mandat internasional.
Sebagai penutup, Menteri Iftitah memberikan pesan tegas kepada seluruh prajurit TNI yang bertugas di Lebanon agar tidak lengah dan selalu disiplin terhadap prosedur internasional.
“Kita ke sana bukan untuk berperang, tetapi menjaga perdamaian. Senjata digunakan untuk membela diri, bukan menyerang. Jangan lengah, patuhi protokol PBB, dan pahami rule of engagement yang terus berkembang di lapangan,” tegasnya.
Apresiasi untuk Pasukan Perdamaian Indonesia
Kementerian Transmigrasi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh prajurit perdamaian Indonesia yang terus mengemban amanat konstitusi dalam menjaga ketertiban dunia, sekaligus mendoakan keselamatan mereka dalam menjalankan tugas negara.(Red)
Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi
Kontak:
Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia
📍 Jl. TMP Kalibata No.17, Jakarta Selatan
📞 (021) 7994372
📧 humas@transmigrasi.go.id
🌐 www.transmigrasi.go.id

